Recent Posts

header ads

PUISI PUISI



Kembang Api Gaza
Gaza,
Kamu seperti terlalu tua untuk cantik
Ketika berbagai bangsa bersolek
Kamu masih bermain kebang api
Menggelegar memanggil simpati
Mengaduk emosi hingga ke hati
Tapi selalu saja ada
Yang memelihara kambang api mu
Agar kilatnya mengalirkan tangis mu
Agar saudara-saudar mu peduli
Namun kamu tetap tak mau berbagi
Dengan musuhmu yang akan selalu senang menerima tawaranmu
Kapan pun bila kamu mengajak bermain kembang api lagi
Seperti kamu tak mau hidup tanpa kembang api mu
Bagai panggilan syahid tanpa henti
Gaza,
Gandum tak akan tumbuh di puing-puing api
Ketika semua manusia punya.cerita
Demikian juga keturunan Musa
Yang mencari tumpah darahnya
Yang mencari sinagog nya
Yang tidak seperti masjid mu
Namun itulah keniscayaan sejarah
Di mana manusia punya masalalu
Untuk nendapatkan masa.depanya
Dengan berbagi
Bukan dng mengunci mulut dan hati
Atas nama menang dan kalah
Namun pasti membuang masa depan
Dengan membiarkan keluargamu dijilati kembang api
Yang konon mampu menghantar sebagai mujahid
Atas kesungguhanya bermain kembang api 
Gaza,
Hampir di setiap ramadhan mu
Selalu ada kembang api musiman
Yang mengundang perhatian
Tentang ramadhan kembang api Gaza itu
Dan saudara2 mu akan senang membelikan kembang api
Bahkan akan mengirimkam yang menyalakan kembang api
Agar seruan syurga semakin kencang dan syahdu
Karena semua dihitung dengan harga diri
Bukan keinginan bersama membuka huma utk menanam gandum mu
Bersama cucu-cucu Musa
Yang terlanjur meniupkan agresi
Untuk atas nama hak mu yang diminta berbagi
Hingga lebih suka bermain kembang api tanpa henti

Gaza, 
Kapan kamu dapat memanen gandum mu sendiri lagi ?

by : bhd.



BAHKAN CAHAYA PUN MENGHITAM ..
Medio: 29 January 2011 at 02:32

bahkan cahaya pun menghitam ..
bahkan cahaya pun harus dipapah ..
bahkan cahaya pun harus dibuat-buat ..
bahkan matahari pun butuh pantulan di gelapnya waktu ..
jika pun bisa dipahat saat meredupnya ..
mengapa kita gelap mata di siang hari yang cuma-cuma sinarnya ..
menjadi tirani atas kehidupan diri kita dan pasukan kutu ..
mengapa tak terlihat bening mata indahmu ..
setelah seribu tungku dinyalakan apinya ..
mengapa Musa yang gagah itu bertongkat demi lautan ..
mengapa kapal-kapal Nuh dipahat di gunung-gunung ..
mengapa Sulaiman harus bicara pada burung hud-nya ..
lalu mengapa masif terjadi penindasan pada nasib ..
tidak kah kita melihat ..
pada bayi-bayi yang bekerja di perempatan jalan ..
pada bencana yang bertukar-tukar waktu saja ..
pada lara yang mengkoyak kaca televisi di rumah kita ..
pada sahabat nanah dan belatung kehidupan yang karib ..
pada penghuni istana ketidakadilan ..
pada bandit-bandit di house of representatif ..
pada para pembeli palu mahkamah ..
pada para penasehat hukum yang haus kemenangan ..
pada para pemimpin yang membeli rakyatnya ..
pada jalan yang tak memberi jalan ..
pada seribu pintu neraka dengan satu pintu syurga ..
pada matinya dialektika yang dipapah sumpah serapah ..
pada negeri yang dibangun dengan kalimat yang tergesa-gesa ..
pada anak-anak negeri atlantis yang menindas dirinya ..
pada ulama-ulama yang menjual ayat-ayat dengan harga yang sedikit ..
pada proposal-proposal kumal yang mengatasnamakan penderitaan ..
pada tujuan-tujuan yang menjual kemiskinan nan papa ..
di negeri yang bermandi matahari sepanjang waktu ..
namun kegelapan ada di mata yang bening itu ..
mata yang bersama telinga menjaga dari kesalahpahaman hati ..
mata yang menjaga kebersamaan hanya untuk cita rasa ..
cita rasa kepentingan diri dengan kampanye syurga ..
yang menuai neraka-neraka hening ..
dimana uang mudah dipapah dalam pragmatisnya dogma ..
dogma untuk selalu mengambil tanpa pernah berpikir membari ..
dogma-dogma jumud yang mengusung takdir kemuliaan ..
tombak-tombak ketaklidan yang menghunus sunyi ..
sunyi seperti janji-janji para burung ..
yang menanyakan kelelahan pada pasukannya ..
yang terbang mengawang sambil tertidur ..
melupakan hari depannya dengan ketaatan ..
bahkan cahaya pun terus menghitam ..
mencari tahta kebohongan ..
tidak mendapatkan Yusuf ..
dan tidak juga mendapatkan sobekan bajunya ..
sampai suatu waktu !

-bhd.


ANTARA DUKA DAN TANYA

11 December 2011 at 02:16
Sondang .....
Hitam putih aspal Merdeka Utara di hari yang luruh itu
Matahari tak pernah berkedip sekejap juga
Tak seperti burung manyar yang melangkahi astana putih
Semua ada jawaban di sayapnya .. di kicaunya ..
Tentang seharusnya hidup menjadi burung
Dan mati sebagai burung
Tak peduli dunia berkicau atau pun mengigau
Burung manyar tetaplah burung manyar
Bukan sondang yang bimbang memilih zaman
Yang tak bersayap dan tak berkicau merdu
Suara Sondang meninggi membentur angin
Ratapan sondang pada derita kaum papa selalu membatu
Apapun yang bergolak di pikirannya itu adalah tentang tanya
Tentang tanya pula demi memartirkan diri di tangannya
Tuhan pun diminta mengerti tentang keputusannya
Rakyat diberikan berjuta pertanyaan antara pilu dan meradang
Mahasiswa progresif reformasioner seolah mendukung tindakanmu
Tukang becak berdecak-decak senyaring suara kerontang klakson kalengnya
Sopir angkot tak habis pikir penumpangnya tetap sepi setelah kepergianmu
Polisi sibuk bertanya tentang motif ..
Presiden enggan berkomentar dalam dilema kecil
Menteri yang dipecat datang memberi simpati
Koruptor kakap sibuk dengan chanel TV dan koran terbitan luar
Koruptor kecil mendengar tak mendengar di keseharianya
Lalu adakah yang bisa menjawab nurani mu Sondang
Jika kau juga tak punya jawaban ?
Selain segalon bensin dan mancies di tangan ..
Apa lagi yang kau punya Sondang ?
Bahkan kau usir suara ibu bapak mu dalam bisikan
Dan kau tau ulama-ulama akan membisu tanpa kata fatwa
Ini semua tentang tanya tak berjawab ..
Tentang nadir yang menemui takdir
Tentang takdir slogarde ketidakpuasan jiwamu
Tentang api yang tidak juga membakar semak belukar
Tentang grafiti di hati yang menuntun mu ke bara api
Lalu semuanya gelap dan lebih gelap lagi meski matahari semakin meninggi
Istana peninggalan belanda itu menjadi saksi
Bahwa penjajahan tak pernah usai
Dan kau pergi sebagai sondang
Sondang yang penuh tanya
Sondang yang kalah
Sondang yang menang
Sondang yang mengetuk pintu dengan kerasnya
Sondang yang membebaskan semua pertanyaan
Sondang yang menyerahkan semua jawaban dengan nafas terakhir ..
Lilin dan do'a bisakah membenarkan tindakan mu Sondang ?
Fatwa dan sara, bisakah menjawab tuntutan mu ?
Betapa menyedihkan negeri mu .. Sondang ...?

Ahad, 11/12 Jam 00.00 WIB
by : bambang heda

 


JIKA LANGIT SEMAKIN TINGGI SAJA

29 August 2010 at 00:00
Jika langit semakin tinggi saja..

Gebah kepak sayap menyapu waktu keruh..

Mengungkap apa gemah ripah loh jinawi itu..

Di jiwa yang melebur di padang gersang untuk satu huma..

Dalam ranah teduh syurga yang samar-samar terlukis..

Hidup dengan bayangan yang menghilang..

Digantang matahari terik pun..

Harapan tetap lah harapan..

Yang selalu tertindih rasa lapang..

Jika langit semakin tinggi saja..

Terbang adalah lelucon


LUKA MERAH LUKA

10 December 2010 at 00:14
Janji terkutung sepi muara hasrat
Ketika matahari baru semerah gula
Dan bulan terkubur warna
Tak ada lagi yang seindah Ken Dedes
Ketika prasasti-prasasti dikencingi
Mereka yang kencing dan menghunus muslihat
Tak lagi bengkok tetapi bukan lagi kebenaran
Yang meneteskan darah penyubur tanah
Lalu terkutung maknanya, 'Merdeka'..

Pada negeri yang dibangun di atas kalimat yang tergesa-gesa
Genderang menganjurkan rakyat bercelana dan berkondom
Agar uang mudah dipapah
Bulat di dalam merekayasa dogma
Dan, bocah-bocah silau lahir
Kelak besarnya menjadi cowboy-cowboy aspal
Menantang dalam kamulfase perang
Intifada di jalan dan kelebatan samurai
Dalam grafity, tawuran, arogansi dan ornamen lokalisasi

Kepada negeri yang tengah menjerit
Mulut apapun tersuruk dalam palsu kusutnya nyali
Terjaga pejam saat hari sudah terkoyak
Muak dan terkejut perang lahir yang berbau rasa kantuk
Mimpi bulan berkotak-kotak
Dan berlututlah kubus terangi separuh malam

Selamat pagi zaman yang menua
Tawamu lambat ke jiwa
Jiwa yang melahirkan peluru dan obeng-obeng berdarah
Yang berarti, satu langkah adalah satu langkah
Yang hidup hanya di bayang
Harus berkayuh haus seperti kilas kehidupan bunglon
Beraninya menuang anggur dalam cangkir tanah
Permainkan waktu yang gampang putus
Temalikan jeriit serumpun angan yang ranum dan bisu
Seperti kisah pelacur yang pulang kampung
Dan kembali melacur dari pada makan akar ilalang
Di hari depan menua terpetak-petak karena luka

Kaderisasi garong dari para gelandangan
Anak-anak putus sekolah menjadi kandidat preman
Maka, cucilah otak generasimu selama seratus jam
Niscaya tak akan pernah mengerti dirinya sendiri
Bahwa memang tak mengerti
Ketika semua langkah sudah menjadi pragmatis
Dan bunga-bunga primordial tumbuh mekar
Di antara gerombolan pewaris tahta atau korban nasib

Tak ada musim di atas kamus
Bahwa ketidakbebasan menjadi merata bukan hanya untuk lonte dan manusia teri
Mahasiswa tidak lagi mabuk slogan
Sebab slogan itu tidak lagi subversif
Maka bakukan budaya petunjuk dalam kamus itu
Maka itulah sejatinya kamulfase
Seperti kabut di atas Singosari dulu


bambang heda
Thls-ku, medio 1996
Penabuh Genderang Demo Mhs 1998

?? ....................... ??

14 July 2010 at 22:47
Menggugah jernih masa ..
Melipat waktu lusuh di pundak ku ..
Membaca ketidakmengertian tentang ikhwal ..
Memetik hidup yang sepi ..
Seperti menuang waktu di telapak tangan ..
Meniupnya di ketinggian hari ..
Mengembang dibuai mentari malam ..
Di tepian do'a pada sajak yang berlari ..
Melihat di kejauhan seraya mendengarkan risau lirih ..
Berdesir dalam pinta ..
Oh .. Tuhan yang maha kaya ..
Berilah rakyatku makanan dari dedaunan yang jatuh ..
Itu pun cukup dari jutaan pepohonan yang menjulang ..
Akarnya mampu meniup ruh dan mengikat semua jiwa ..
Dan berbuah sepanjang musim ..
Dalam kita .. bukan aku ..

Tetapi ..

10 August 2010 at 16:34
Jatuh pelupuk di kedua telapak tanganku
Merebak dalam rasa terpaku batu
Tentang segumpal langkah panjang dan tinggi
Tak kepalang jauh, tak kepalang terbang
Meninggalkan jarak yang menganga
Menerjang awan lembut yang menusuk
Pada tatap mata yang menggerus jiwa
Nyali sunyi dalam tengadah do'a
Di antara kesalahan dan harapan
Terangnya waktu menunjuk saat meraih
Berderap sketsa ku melaju
Ayolah sama-sama leluasa mencipta
Mengukir punggung digjaya
Tak lekang api membakar
Tak hanyut laut terbelah
Tak letih dan tak lesu
Mencuci hati dan menyerulah
Tak ada harapan tanpa jerih payah cinta
Pada hadirnya perubahan
Pada kebeningan yang tak berubah
Tetapi ..
Tiada lagi tetapi ..
Tetapi bukan tetapi ..
Pergilah saja tetapi ..