Recent Posts

header ads

WAHYU MELAWAN RO'YU / HAWA NAFSU

Firman Allah swt :
قل أطيعوا الله و الرسول فإن تولوا فإن الله لا يحب الكافرين .
ال عمران 32

“Katakanlah : Taatilah Allah dan RasulNya . Jika kamu berpaling , maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang - orang kafir."

Mentaati Allah dan Rosulnya adalah membutuhkan sebuah ACTION yang NYATA / KONGKRIT, yaitu sebuah tindakan yang berdasar kepada WAHYU ALLAH, di sini Allah memiliki hak MUTLAK, bahwa apa saja yang termaktub di dalam Al-Quran baik berupa perintah maupun larangan harus dilaksanakan dengan sebenar benar TAQWA. Kemudian pada tataran pelaksanaan, Rosul memegang kunci peran yang sangat penting, yaitu sebagai SENTRAL CONTOH, yang disebut sebagai Al-Quran yang berjalan dengan uswatun hasannah-nya.

Tindakan yang berdasar kepada WAHYU berlawanan dengan tindakan yang berdasar pada HAWA NAFSU. Secara harfiah, HAWA bermakna KEINGINAN, dan NAFSU / NAFSI bermakna DIRI. Dewasa ini terjadi penyempitan makna bahwa hawa nafsu itu percis / identik dengan birahi yang tidak terkontrol, penyempitan makna ini menyebabkan ruang lingkup pemaknaan wahyu juga ikut menyempit, alhasil Al-Quran hanya dimaknai sebagai tuntunan untuk kebaikan dan moral semata, sedang pada kenyataanya, Al-Quran berisikan materi yang sangat multi dimensi, menyangkut segala urusan makhluk Allah dan alam semesta.

Dengan keluasan pemahaman terhadap Al-Quran, pun Allah telah menggariskan dengan sangat jelas tentang fungsi dan peran makhluknya, seharusnya umat islam tidak ada pilihan lain mahupun menawar nawar isi dari Al-Quran, yaitu mana yang bisa dilaksanakan menurut HAWA NAFSUNYA / KEINGINAN DIRINYA dan mana yang tidak bisa dilaksanakan. Sifat pengingkaran ini menyebabkan umat islam kususnya di Indonesia secara riset rata-rata hanya melaksanakan Al-Quran kurang dari 10% dari keseluruhan ayat Al-Quran. Di lain pihak, Allah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk berislam secara kaffah (100%), yaitu melaksanakan keseluruhan isi kandungan Al-Quran secara 100%. (QS : Al-Baqarah 208). Dan ketika seorang kekasih Allah yang sangat patuh yaitu Adam A.S hanya melanggar satu ayat tentang mendekati pohon kuldi saja diAZAB sedemikian rupa oleh ALLAH, bagaimana umat islam dewasa ini mengingkari / tidak melaksanakan isi dari Al-Quran lebih dari 90% ..? Maka sudah barang tentu AZAB akan berulangkali datang tanpa putus-putusnya sampai dengan umat islam secara kongkrit dapat melaksanakan kandungan Al-Quran secara 100%.

Mengapa umat Islam secara rata-rata baru dapat melaksanakan Al-Quran kurang dari 10% dan dan mengingkarinya lebih dari 90% ..? tidak lain dan tidak bukan karena umat Islam lebih suka mengikuti HAWA NAFSU / KEINGINAN DIRI-nya dari pada WAHYU / KEINGINAN ALLAH. Sebagai contoh, Allah menginginkan TAUHID umat Islam menginginkan GOLONGAN / FIRQAH, Allah menginginkan KHILAFAH ISLAM umat Islam melaksanakan KHILAFAH SEKULER DAN THOGUTH dan lain sebagainya, miris untuk mengungkapkan lebih banyak lagi.

Maka benarlah sabda Rosulullah, JIHADUL AKBAR adalah JIHAD MELAWAN HAWA NAFSU, turuti keinginan ALLAH atau turuti keinginan DIRI, faktanya KEINGINAN DIRI mengalahkan lebih dari 90% kandungan AL-Quran.


Firman Allah :
ورسوله ويتعد حدوده يدخله نارا خالدا فيها وله عذاب مهين .
النساء
14

“Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan RasulNya dan juga melanggar ketentuan - ketentuanNya nescaya Allah memasukkannya kedalam api neraka sedang ia kekal didalamnya baginya siksa yang amat hina .”

Lalu kita telah sama-ama melihat, AZAB menjadi sesuatu yang sangat terbiasa dan berulang ulang, karena kita melanggar sebagian besar ketentuan Allah dan Rosulnya, padahal HARAM hukumnya untuk 1 ayat saja dilanggar.

Firman Allah :
و اعتصموا بحبل الله جميعا و لا تفرقوا و اذكروا نعمت الله عليكم إذ كنتم أعدآء فألف بين قلوبكم فأصبحتم بنعمته إخوانا و كنتم على شفا حفرة من النار فأنقذكم منها كذالك يبين الله لكم ءايته لعلكم تهتدون
( ال عمران 103 )

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali agama Allah dan janganlah berpecah belah dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuh - musuhan , maka Allah mempersatukan hati - hati kamu lalu jadilah kamu dengan nikmat Allah itu bersaudara dan kamu telah berada di tepi jurang api neraka lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya . Demikian Allah menerangkan ayat - ayatnya kepadaMu agar kamu mendapat petunjuk .”

Aqidah yang ada sekarang hanyalah sebatas pengakuan antara orang muslim dengan Allah yang kapan saja dapat diingkari karena HABEL / TALI / AQAD-nya tidak benar-benar mengikat, melainkan seolah-olah terikat, di sini Allah diperlakukan sebagai HAKIM tanpa SAHID, seolah-olah Allah tidak menganjurkan keteraturan, karena talinya dapat dilepas kapan saja.

Pada zamanya, Rosulullah berada di dalam DINN yang Tauhid, atau DINNUL TAUHID. Dan dengan keberadaanya di DINNUL TAUHID ini secara syar'i menjadi SAHID / SAKSI kepada siapa saja yang mengikrarkan ber-AQIDAH ISLAM, yaitu beraqidah Islam di hadapan ALLAH dengan disaksikan oleh Rosulullah dan atau para sahabatnya. Dalam hal ini, DINN atau SISTEM memiliki peranan yang sangat penting sebagai wadah aktualisasi pelaksanaan AL-Quran 100%, yang sudah tentu DINN yang TAUHID, buakn DINN yang BERGOLONGAN / FIRQAH, di dalam DINN berisi keteraturan layaknya SYURGA tentang fungsi dan peran para penghuninya yang taat 100%.

Pertanyaanya, DINN yang bukan FIRQAH / GOLONGAN itu yang seperti apakah? dengan tuntutan TAUHID, secara ilmu pengetahuan akan sangat mudah untuk dicari tahu jawabannya, hanya saja Al-Quran menggariskan sistematika pemahaman agar tidak menjadi fitnah, maka datanglah kepada ROSUL ALLAH, yaitu penyampai RISALLAH ALLAH dari DINN yang TAUHID tersebut.

Maka, untuk mendapatkan pencerahan pemahaman tentang DINNUL TAUHID jika sampai pada saatnya, janganlah kamu mengikuti HAWA NAFSU, sebab seperti yang termaktub dalam Firman Allah :

لا تتبع الهوى فيضلك عن سبيل الله إن الذين يضلون عن سبيل الله لهم عذاب شديد بما نسوا يوم الحساب
( ص 26 )

“Dan janganlah kamu mengikut hawa nafsu , kerana ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah . Sesungguhnya orang - orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat kerana mereka melupakan hari perhitungan .”

ولو اتبع الحق أهواءهم لفسدت السموات و الأرض .
( المؤمنون 17 )

“Jika sekiranya kebenaran itu mengikut hawa nafsu mereka nescaya hancur berkecai langit dan bumi ”

و أما من خاف مقام ربه و نهى النفس عن الهوى فإن الجنة هى المأوى .
( النازعات 40 - 41 )

“Dan adapun orang - orang yang takut kepada kebesaran tuhannya dan menahan keinginan hawa nafsu maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggalnya .”

إن النفس لأمارة بالسوء
( يوسف 53 )
“Sesungguhnya nafsu itu menganjurkan kepada kejahatan ”